Pages

Sabtu, 08 Oktober 2011

PENDIDIKAN BERBASIS PADA ALAM

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Alam raya adalah guru sejati, segala yang berjalan di dalamnya sesungguhnya adalah mata pelajaran yang sedang dituturkan. Setiap detik, pelajaran-pelajaran itu terus dihujahkan, yang pada akhirnya, semua dikembalikan kepada kita, apakah kita mau menjadi murid yang baik, yang mau mendengarkan saat guru menyampaikan pelajarannya, ataukah kita akan sibuk dengan diri kita sendiri.
Alam adalah guru, dalam memberikan pelajarannya alam begitu lembut dan pitutur kehidupannya begitu menyentuh hati. Beruntunglah orang-orang yang mau berada dalam keheningan, menyimak pitutur-pitutur itu. Lebih-lebih orang-orang yang mengambil sari pitutur kehidupan itu sebagai teladan dalam menjalani hidup. Alam merupakan salah satu media pembelajaran potensial yang saat ini hampir dilupakan oleh praktisi pendidikan.
Mereka kurang menyadari kalau alam sangat bagus digunakan sebagai tempat untuk melakukan proses belajar. Belajar dari alam bukan berarti kita hanya sibuk memperhatikan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh alam. Atau mengamati apa saja yang dihasilkan oleh alam. Belajar dari alam adalah alam digunakan sebagai tempat untuk melakukan proses belajar mengajar, dan apa yang bisa kita gunakan dari alam sebagai alat peraga atau pendukung dalam proses belajar. Siswa tidak hanya memahami materi yang diberikan oleh guru sebatas pada alam ide, tetapi juga bisa mempelajari secara empiris.
Alam juga merupakan bukti kebesaran-Nya, sehingga manusia harus senantiasa tafakur, tadabur dan tasyakur. Masih banyak ayat Alquran yang menganjurkan kita belajar dari alam, seperti QS Al Hajj :18, QS Yunus : 101, QS Lukman : 20, semuanya menganjurkan agar kita senantiasa mengambil pelajaran dari fenomena yang terjadi di alam jagat raya ini. Apa dan Bagaimana Belajar Berbasis Alam Belajar dari alam dapat diartikan secara sederhana adalah menjadikan alam sebagai sumber, media dan sarana belajar untuk memetik ilmu pengetahuan.
Selanjutnya kami akan membahas pendidikan berbasis pada alam. Sebagai salahsatu rangkaian mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian pendidikan
2.      Kerangka Filosofis pendidikan berbasis alam
3.      Prinsip-prinsip pendidikan berbasis alam
4.      Pendekatan dan metode pendidikan berbasis alam

C.    Tujuan Penyusunan Makalah
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pndidikan Islam program Pascasarjana IAIT Kediri. Dan untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan.

BAB II
PEMBAHASAN

1.                  Pengertian Pendidikan
Pendidikan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.[1]
Pendidikan secara etimologis juga berarti proses, perbuatan, cara mendidik.[2]
            Sedangkan pendidikan secara terminologis, pendidikan, menurut penelitian azra telah didefinisikan secara berbeda-beda oleh kalangan, yang banyak dipengaruhi perspektif masing-masing. Namun semua pandangan yang berbeda itu bertemu dalam semacam kesimpulan bahwa pendidikan merupakan proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien.[3]
            Pendidikan menurut Mohammad al-Toumy al-Syaibaniy adalah proses pengubahan tingkah laku individu, pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai proses di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[4]
Menurut Sukiman sebagaimana dikutip oleh Basrowi dan Suko Susilo bahwa: Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha manusia untuk melestarikan kehidupannya, karena tanpa adanya pendidikan yang terarah, terencana dan sistematis dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi pada bangsa tersebut, dengan pendidikan berarti manusia mempunyai daya upaya untuk memajukan perkembangan sains dan teknologi.[5]
Menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Pasal 1 ayat (1) dijelaskan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.[6]

2.                  Kerangka Filosofis Pendidikan Berbasis Pada Alam
Folosofis pendidikan yang berbasis lingkungan alam sebenarnya telah digagas pertama kali oleh Jan Lightghart pada tahun 1859. Tokoh ini menyajikan suatu bentuk model pendidikan yang dikenal dengan ‘pengajaran barang sesungguhnya’. Konsep ini menjadi salah satu akar munculnya konsep pendidikan yang berbasis pada alam atau back to nature school.[7] Ide dasarnya adalah pendidikan pada anak dilakukan dengan mengajak anak dalam suasana sesungguhnya melalui belajar pada lingkungan alam sekitar yang nyata. Bentuk pengajaran ini dilakukan sebagai upaya menentang bentuk pengajaran yang cenderung intelektualisme dan verbalistik. Menurut Jan Lightghart, Sumber utama bentuk pengajaran ini adalah lingkungan di sekitar anak. Melalui bentuk pengajaran ini akan tumbuh keaktifan anak dalam mengamati, menyelediki serta mempelajari lingkungan. Kondisi lingkungan yang sesungguhnya juga akan menarik perhatian spontan anak sehingga anak memiliki pemahaman dan kekayaan pengetahuan yang bersumber dari lingkungannya sendiri. Bahan-bahan pengajaran yang ada pada lingkungan sekitar anak akan mudah diingat, dilihat dan dipraktikan sehingga kegiatan pengajaran menjadi berfungsi secara praktis.
Inti pengajaran barang sesungguhnya adalah mengajak anak pada kondisi lingkungan sesungguhnya. Semua bahan yang ada di lingkungan sekitar anak dapat dipakai sebagai pusat minat atau pusat perhatian anak. Bahan pengajaran dari lingkungan oleh Jan Lighthart dikelompokan dalam tiga kategori, yaitu:
Lingkungan alam (sebagai bahan mentah), lingkungan produsen atau lingkungan pengrajin (pengolah dan penghasil bahan mentah menjadi bahan jadi) serta lingkungan masyarakat pengguna bahan jadi (konsumen). Bahan ini dapat terdiri dari tanaman, tanah, batu-batuan, kebun, sungai dan ladang, pengarajin kayu, rotan dan pasar atau toko sebagai pusat jual beli bahan-bahan jadi tersebut. Berdasarkan pusat minat anak (tema) ini maka langkah pengajaran dilaksanakan.
Landasan filosofis kedua dapat ditelaah dari filsafat pendidikan naturalisme romantik yang dikemukakan Rousseau. Filosof ini berusaha mengembangkan konsep pendidikan yang dilakukan secara naturalistik atau alami. Ia mengemukakan filosofisnya bahwa : (1) pendidikan harus mengembangkan kemampuan-kemampuan alami atau bakat/pembawaan anak dan (2) pendidikan yang berlangsung dalam alam. Sesuai dengan pandangan di atas, maka pendekatan untuk mendidik anak bukanlah dengan mengajar anak secara formal atau melalui pengajaran langsung, akan tetapi dengan memberi kesempatan kepada mereka belajar melalui proses eksplorasi dan diskoveri.
Landasan filosofis ketiga adalah konsep filosofis yang disampaikan oleh Decroly (1897).
Filosof pendidikan ini mengemukakan beberapa ide filosofis bahwa :
1. Sekolah harus dihubungkan dengan kehidupan alam sekitar.
2. Pendidikan dan pengajaran agar didasarkan pada perkembangan anak.
3. Sekolah harus menjadi laboratorium bekerja bagi anak-anak.
4. Bahan-bahan pendidikan/pengajaran yang fungsional praktis.[8]
Dari ketiga landasan filosofis pendidikan tersebut diharapkan akan menjadi rumusan pijakan untuk mengembangkan pendidikan yang berbasis alam untuk memberikan pembelajaran yang bermakna bagi anak-anak.


3.                  Prinsip-Prinsip Pendidikan Berbasis Alam
Proses pendidikan berbasis alam perlu memperhatikan sejumlah prinsip yang mendasarinya. Prinsip-prinsip yang dimaksud diantaranya adalah :
1.      Berpusat pada perkembangan anak dan optimalisasi perkembangan
Keberhasilan pendidikan dapat diukur pada sejauh mana pendidikan berhasil mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengoptimalkan potensi setiap anak sesuai dengan karakteristik perkembangannya
2.      Membangun kemandirian anak
Proses pendidikan yang berbasis alam diharapkan dapat membangun dan mengembangkan kemampuan menolong diri sendiri (kemandirian), kedisiplinan dan sosialisasi agar terbentuk karakter kemandirian yang kuat.
3.      Belajar dari lingkungan alam sekitar
Proses pendidikan berbasis alam akan memaksimalkan pemanfaatan kekayaan alam yang ada,sebagai sumber ilmu pengetahuan,sehingga memiliki ketajaman berpikir dan wawasan keilmuan yang aplikatif.
4.      Belajar dan bermain dari lingkungan sekitar
Melalui bermain, memungkinkan anak untuk terlibat dalam lingkungannya, melalui konflik internal maupun eksternal sehingga anak belajar melalui berbagai pengalaman dengan objek, orang, kegiatan yang ada di sekitarnya.
5.      Memanfaatkan sumber belajar yang mudah dan murah
Dengan memanfaatkan lingkungan sekitar, anak dapat mempelajari banyak hal dari lingkungan terdekatnya (lingkungan alam, lingkungan fisik, lingkungan sosial, kultur budaya, dll) sehingga sumber belajar tidak harus sengaja dirancang dengan mengeluarkan biaya yang mahal.
6.      Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik
Pembelajaran tema adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang didasarkan atas ide-ide pokok/sentral tentang anak dan lingkungannya. Melalui pembelajaran tema dapat memberikan pengalaman langsung tentang objek yang riil bagi anak untuk menilai dan memanipulasinya, menumbuhkan cara berpikir yang komprehensif.
7.      Membangun kebiasaan berpikir ilmiah
Berpikir ilmiah yang dimaksud pada prinsip ini adalah memperkenalkan dan
membiasakan anak untuk menemukan berbagai permasalahan yang ada di lingkungannya dan berpikir untuk menemukan cara memecah-kannya. Kegiatan berpikir seperti ini dapat dilakukan melalui eksplorasi berbagai hal yang terjadi/ada dari lingkungannya, dari hal yang mudah/sederhana ke arah yang lebih kompleks/sukar.
8.      Pembelajaran inspiratif, menarik, kreatif dan inovatif
Anak adalah subjek dalam pembelajaran. Kegiatan-kegiatan pembelajaran perlu disiapkan untuk membangun rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis dan menemukan hal-hal yang baru.
9.      Memberikan ruang bagi anak untuk belajar secara aktif (active learning).
Dengan belajar dari sumber lingkungan sekitar dan lingkungan lain yang mendukung akan mendorong anak untuk menunjukkan aktivitas belajarnya. Anak akan berusaha mengamati, mencari dan menemukan berbagai pengetahuan dan konsep yang penting berkaitan dengan berbagai bidang perkembangan.[9]

4.                  Pendekatan Dan Metode pendidikan Berbasis Alam
A. Pendekatan Pendidikan Berbasis Alam
Beberapa pendekatan yang dapat dijadikan rujukan dalam pendidikan yang berbasis alam dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut :
1.      Pendekatan pedosentris versus materiosentris
Pendekatan pedosentris (Paedos berarti kesanggupan atau kemampuan anak, sentries artinya berpusat) sering dikenal dengan learner centered yakni cara memandang kegiatan pembelajaran yang bertumpu atau bertitik tolak dari kesanggupan atau kemampuan anak sebagai individu yang belajar. Hal ini berbeda dengan cara pandang dari materiosentris (Matero berarti materi atau bahan pembelajaran) yang menganggap bahwa segala pusat kegiatan pembelajaran harus dimulai dengan materi atau bahan pembelajaran. Guru tidak perlu memikirkan anak yang lambat, sedang atau cepat dalam menangkap materi atau bahan pembelajaran.
2.                    Pendekatan Child Centered versus teacher centered
Pendekatan child centered atau student centered merupakan suatu cara pandang yang menganggap bahwa pusat kegiatan pembelajaran bertitik tolak pada aktivitas anak (murid). Tugas guru yang utama menurut pandangan ini adalah menyusun dan menciptakan berbagai situasi dan fasilitas yang memungkinkan anak belajar. Pada sisi yang berlawanan, cara pandang teacher centered menekankan pusat kegiatan pembelajaran berada pada aktivitas guru dalam menguasai serta menyampaikan materi pembelajaran.
3.                    Pendekatan Discovery (penemuan) versus Ekspositori (penyajian)
Pendekatan Discovery dikenal juga dengan istilah pendekatan penemuan. Pendekatan ini mempunyai cara pandang yang memusatkan kegiatan pembelajaran pada upaya atau aktivitas anak didik untuk menemukan sendiri berbagai aspek pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai melalui berbagai pengalaman yang dirancang dan diciptakan guru. Adapun pendekatan ekspositori lebih memandang aktivitas pembelajaran sebagai kegiatan guru melakukan ekspose atau penyampaian pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai.
4.      Pendekatan Proses versus Pendekatan hasil
Pendekatan proses dalam pembelajaran berbasis alam mengisyaratkan bahwa kegiatan pembelajaran lebih mengedepankan pentingnya proses belajar sebagai proses pemerolehan berbagai ragam pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan oleh anak sendiri. Adapun pendekatan hasil lebih menekankan pentingnya hasil belajar tanpa begitu mempedulikan proses yang dilalui oleh anak dalam belajar.
5.      Pendekatan Kongkrit versus Pendekatan abstrak
Pendekatan kongkrit merupakan cara pandang dalam proses pembelajaran yang lebih mengupayakan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan proses yang kongkrit. Melalui pendekatan ini, proses pembelajaran akan diupayakan sedemikian rupa sehingga menjadi suatu yang kongkrit bagi anak, terutama menjadi hidup dalam kehidupan sehari-hari. Adapun pendekatan abstrak merupakan cara pandangan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang lebih banyak menggunakan proses abstrak. Proses seperti ini memberikan pemahaman yang verbalisme pada anak tentang berbagai ragam pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan tertentu.
6.      Pendekatan Tematik
Pendekatan tematik merupakan suatu cara pandang dalam menyelenggarakan pembelajaran yang menggunakan berbagai konteks dalam kehidupan anak sehari-hari. Pendekatan pembelajaran tematik lebih mengutamakan pembahasan berbagai konteks yang dimaksud, terutama aspek pengalaman belajar siswa. Dengan demikian pembelajaran tematik menjadi bersahabat, menyenangkan, tetapi tetap bermakna bagi siswa.

B. Metode Pembelajaran Berbasis Alam
Metode merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran.
Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran berbasis alam adalah:
1. Circle Time adalah salah satu metode belajar yang dapat digunakan dengan membuat formasi setengah lingkaran dimana guru dengan anak dapat berinteraksi secara langsung. Metode ini bertujuan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangannya yaitu kognitif, emosi, sosial, terutama sekali kemampuan berbahasa serta menumbuhkan minat belajar dan partisipasi anak.
2. Metode proyek merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang menghadapkan anak pada persoalan sehari-hari yang ada dan harus dipecahkan baik secara individu maupun berkelompok. Metode ini merupakan salah satu bentuk pendekatan yang berpusat pada anak karena anak memiliki kesempatan untuk belajar mencari jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi.
3.  Metode penemuan terbimbing lebih menekankan pada pengalaman belajar agar anak dapat menghasilkan pemecahan khusus, agar anak mampu menghubungkan dan membangun konsep melalui interaksi dengan orang lain dan objek. Contoh anak menemukan bahwa ukuran bentuk, dan warna berbeda melalui menemukan yang dibimbing oleh guru.
4. Metode diskusi yaitu menunjukan interaksi timbal balik antara guru dan anak, guru berbicara kepada anak berbicara pada guru, dan anak berbicara dengan anak yang lainnya.
5. Metode demonstrasi melibatkan satu orang anak untuk menunjukan kepada anak yang lain bagaimana bekerjanya sesuatu dan bagaimana tugas-tugas itu dilaksanakan. Guru menggunakan metoda demonstrasi untuk menggambarkan sesuatu yang akan dilakukan oleh anak.
6. Belajar kooperatif (Cooveratif learning) dapat diartikan anak-anak bekerjasama dalam kelompok kecil setiap anak dapat berpartisipasi dalam tugas-tgas bersama yang telah ditentukan dengan jelas tidak terus menerus dan diarahkan oleh guru melalui belajar kooperatif melibatkan anak untuk berbagi tanggungjawab.
 7. Metode eksploratori
metoda ini memungkinkan anak mengembangkan penyelidikan langsung yang berjalan dengan langkah-langkah sendiri, membuat keputusan apa yang telah dilakukan, bagaimana melakukannya dan kapan melakukannya melalui prakarsa sendiri anak meneliti orang, tempat, objek, peristiwa, sehingga anak dapat membangun pengetahuannya sendiri.
8. Metode problem solving (pemecahan masalah)
Pemecahan masalah merupakan suatu metoda yang memberi kesempatan kepada anak untuk memecahkan masalah sederhana melalui kegiatan merencanakan, meramalkan, membuat keputusan, mengamati hasil tindakannya.
9. Museum Anak (Child Museum)
Museum anak yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang dilakukan anak melalui kegiatan pengumpulan benda-benda yang ada di lingkungan sekitarnya dan memamerkannya. Metoda ini memberikan kesempatan kepada anak dimana anak-anak dapat mengalami langsung sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Melalui metoda ini, anak dapat belajar menggali kembali pengetahuan, melalui benda-benda yang yang ada di lingkungan sekitarnya. Mereka dapat mencari, mengumpulkan dan memilah-milah atau mengelompokkan benda-benda yang ada di sekitarnya kemudian memamerkannya sehingga anak dapat langsung melihat, memegang, bahkan mengeksplorasi benda-benda yang menjadi pusat perhatiannya.[10]

BAB III
KESIMPULAN

1.        Pendidikan secara terminologis, merupakan proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien.
2.        Landasan Filosofis Pendidikan Berbasis Alam
-       Lingkungan alam (sebagai bahan mentah), lingkungan produsen atau lingkungan pengrajin (pengolah dan penghasil bahan mentah menjadi bahan jadi) serta lingkungan masyarakat pengguna bahan jadi (konsumen).
-       Filosof kedua ini berusaha mengembangkan konsep pendidikan yang dilakukan secara naturalistik atau alami.
-       Landasan filosofis ketiga:
1. Sekolah harus dihubungkan dengan kehidupan alam sekitar.
2. Pendidikan dan pengajaran agar didasarkan pada perkembangan anak.
3. Sekolah harus menjadi laboratorium bekerja bagi anak-anak.
4. Bahan-bahan pendidikan/pengajaran yang fungsional praktis.
3.        Prinship-prinship Pendidikan Berbasis Alam
a.       Berpusat pada perkembangan anak dan optimalisasi perkembangan
b.      Membangun kemandirian anak
c.       Belajar dari lingkungan alam sekitar
d.      Belajar dan bermain dari lingkungan sekitar
e.       Memanfaatkan sumber belajar yang mudah dan murah
f.       Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik
g.      Membangun kebiasaan berpikir ilmiah
h.      Pembelajaran inspiratif, menarik, kreatif dan inovatif
i.        Memberikan ruang bagi anak untuk belajar secara aktif (active learning).
4.        Pendekatan dan Metode Pendidikan Berbasis Alam
Pendekatan:
-          Pendekatan pedosentris versus materiosentris
-          Pendekatan Child Centered versus teacher centered
-          Pendekatan Discovery (penemuan) versus Ekspositori (penyajian)
-          Pendekatan Proses versus Pendekatan hasil
-          Pendekatan Kongkrit versus Pendekatan abstrak
-          Pendekatan Tematik
Metode:
-          Circle Time                                                -Metode Proyek
-          Metode penemuan terbimbing                  -Metode Diskusi
-          Metode demonstrasi                                 -Belajar kooperatif
-          Metode eksploratori                                  -Metode problem solving
-          Museum Anak



DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azrumardi,  pendidikan Islam: Tradisi dan Modrnisasi menuju Milinium Baru, Jakarta: Logos. 2002.
al-Syaibaniy, Mohammad al-Toumy, Falsafat al-Tabiyah al-Islamiyah, (terj) Hasan Langgulung, Jakarta: bulan Bintang, 1979.
Basrowi dan Suko Susilo, Sosiologi Pendidikan, Mengapa Penting?. Bekasi: Pustaka Ilmu Nusantara, 2010.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka. 1995.
Undang-Undang Sisdiknas, PDF
Badan Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta 2008.  http://www.scribd.com/doc/33666826/Model-PAUD-Berbasis-Alam , diakses tanggal 27 Juli 2011.




[1] Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 232.
[2] Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 232.
[3] Azrumardi Azra, pendidikan Islam: Tradisi dan Modrnisasi menuju Milinium Baru, Jakarta: Logos. Hlm 3.
[4] Mohammad al-Toumy al-Syaibaniy, Falsafat al-Tabiyah al-Islamiyah, (terj) Hasan Langgulung, (Jakarta: bulan Bintang, 1979),  hlm. 399
[5] Basrowi dan Suko Susilo, Sosiologi Pendidikan, Mengapa Penting?. (Bekasi: Pustaka Ilmu Nusantara, 2010) hlm 63.
[6] Undang-Undang Sisdiknas, PDF
[7] Badan Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta 2008. http://www.scribd.com/doc/33666826/Model-PAUD-Berbasis-Alam , diakses tanggal 27 Juli 2011.

[8] Badan Penelitian Dan Pengembangan… http://www.
[9] Badan Penelitian Dan Pengembangan… http://www.
[10] Badan Penelitian Dan Pengembangan… http://www.

Rossi vs Stoner...


Cerita perseteruan Valentino Rossi vs Casey Stoner merebak usai MotoGP Jerez lalu. Namun itu bukanlah yang pertama kali terjadi. Konfrontasi baik secara langsung maupun tidak, antara Rossi dan Stoner sudah pernah terjadi sebelumnya. Bukan apa-apa mbah hanya sekedar mengingatkan beberapa peristiwa tersebut, mbah hanya mencoba untuk menyajikannya kembali. Tanpa ada maksud untuk m...embenar-salahkan salah satu diantaranya.

Rossi tolak Stoner di Yamaha...
Sejak musim 2005, Yamaha sudah mulai kasak-kusuk mencari rider muda guna persiapan regenerasi seandainya Rossi benar-benar mewujudkan niatnya meninggalkan arena MotoGP menuju Formula 1 atau WRC.

Colin Edwars yang saat itu masih menjadi rider team pabrikan Yamaha mengusulkan nama Casey Stoner. Usulan ini didukung penuh oleh crew chief Jeremy Burgess. Bukan hanya karena mereka sama-sama orang Australia tetapi lebih karena Burgess melihat potensi luar biasa yang dimiliki Stoner.

Yamaha pun akhirnya mulai mendekati Stoner menjelang musim 2007. Namun ketika kedua pihak sudah mendekati kata sepakat, semuanya batal karena The Doctor mengeluarkan hak veto. Rossi tak mau satu team dengan Stoner. Alasannya saat itu adalah karena Rossi tak mau konsentrasi Burgess terpecah jika di paddock ada rider senegara dengan kepala mekaniknya.

Meski kecewa, Stoner menerima keputusan sepihak tersebut dan akhirnya bergabung dengan team Marlboro Ducati. Entah kebetulan atau ada faktor karma, Stoner langsung menjadi juara dunia saat debutnya bersama Ducati.

Insiden Laguna Seca
Pada seri-seri awal MotoGP 2008, Rossi masih kerepotan menghadang Stoner dengan Ducati-nya. Menjelang MotoGP Laguna Seca, Rossi mengungkapkan cara untuk mengalahkan rider Australia itu.

“Aku harus start 30 detik lebih awal atau tembak saja dia”, komentar Rossi saat itu dengan nada bercanda.

Yang terjadi kemudian saat race adalah Rossi benar-benar menembak Stoner. Bukan menembak badannya, tetapi menembak mentalnya. Rossi terus berusaha menghadang laju Stoner dengan berbagai manuvernya, termasuk memotong jalur di tikungan Corkscrew. Rossi pun sukses memenangkan duel maut itu.

Di podium, Casey secara langsung menyampaikan protesnya kepada Rossi. Dia menilai manuver-manuver Rossi sudah kelewat batas. Protes iti ditanggapi dingin oleh The Doctor. Baginya semua masih wajar-wajar saja. Pihak race direction pun sepertinya cuek terhadap masalah ini. Jangankan sangsi, teguran pun tak ada untuk kedua rider tersebut.

Sejak saat itu, suami Adriana ini berjanji kedepannya akan balapan dengan lebih agresif, karena toh secara regulasi itu sah-sah saja.

Stoner tinggalkan Ducati karena Rossi?
Berita tentang keinginan Ducati meminang Valentino Rossi sudah lama beredar. Sudah bukan rahasia lagi jika pabrikan asal Italia itu mengincar Rossi sejak musim 2003. Namun isu kepindahan Rossi ke Ducati semakin gencar sejak musim 2009.

Tahun 2010 lalu semuanya benar-benar terbukti. Ducati dan Stoner mengumumkan perpisahan mereka usai MotoGP Catalunya. Sesaat kemudian Honda mengumumkan bergabungnya Stoner mulai musim 2011. Sedangkan perpisahan Rossi dengan Yamaha untuk menuju Ducati baru diumumkan menjelang akhir musim, tepatnya usai MotoGP Brno. Sat itu Jeremy Burgess mengisyaratkan tidak akan ikut Rossi ke Ducati.

Sekilas semua nampak berjalan dengan wajar. Tapi bagaimanapun, sangat sulit untuk mengelak bahwa kepergian Stoner dari Ducati tak ada hubungannya dengan kedatangan Rossi kesana. Apalagi ketika akhirnya Burgess terbukti bersandiwara, karena bukan cuma dia yang meninggalkan Yamaha tetapi juga kru lainnya berbondong-bondong mengikuti The Doctor.

Nah, kekesalan Casey Stoner atas segala “ketidak adilan” yang dialaminya seperti memuncak usai insiden di sirkuit Jerez. Rasa emosi membuat Stoner bertindak “kurang dewasa” dengan memberikan applause negatif terhadap Valentino Rossi. Cuma jika tidak demikian, bisa jadi pihak yang berwenang tidak akan mengevaluasi insiden tersebut.

Selasa, 04 Oktober 2011

Marc Marquez Vs Andrea Iannone


The Next Valentino Rossi....

Titip Kangen


Titip Kangen

Liwat angin sore
Titip kangen neng ati
Numpang ngapurane
Durung biso nemoni

Tak suwun slirane
Gelem sabar ngenteni
Percoyo’o sayang
Aku ra bakal lali

Kangen aku kangen sliramu
Rindu aku pingin ketemu

Liwat angin sore
Titip kangen ning ati
Numpang ngapurane
Durung biso nemoni

Padang rembulan ning pelataran
Koyo nggugah ati kang kasmaran
Wanci wis wengi sansoyo sepi
Soyo nggegowo suwunge ati

Kanggo sliramu seng tak tresnani

Minggu, 02 Oktober 2011

Sejarah Pendidikan Islam Indonesia Zaman Jepang



Makalah

Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
Zaman Jepang

Dipresentasikan pada Diskusi Mata Kuliah
Sejarah Sosial Pendidikan Islam di Indonesia


Dosen Pengampu
Prof. Dr. Imam Fuadi, M.Ag.

Oleh :
Muhammad Asnan
M. Fathul Mustaqim



INSITUT AGAMA ISLAM TRI BHAKTI (IAIT) KEDIRI
PROGRAM PASCASARJANA
Oktober 2011


BAB I
PENDAHULUAN

A.                  Latar Belakang Masalah
Dengan mempelajari sejarah pendidikan Islam di Indonesia, kita dapat mengetahui pertumbuhan dan perkembangan umat islam, baik dilihat dari sebab-sebab kemunduran, maupun sebab terang benderangnya pendidikan dan ajaran Islam di bumi Nusantara ini.
Makalah ini mencoba mengungkapkan perjalanan pendidikan Islam di Indonesia pada masa penjajahan Jepang melalui berbagai rentetan sejarah yang pernah dialaminya.
Jepang muncul sebagai Negara kuat di Asia. Bangsa jepang bercita-cita menjadi pemimpin Asia Timur Raya, dan hal ini sudah direncanakan Jepang sejak tahun 1940 untuk mendirikan kemakmuran bersama Asia Raya. Menurut rencana tersebut Jepang ingin menjadi pusat suatu lingkungan yang berpengaruh atas daerah-daerah Mansyuria, Daratan Cina, Kepulauan Filiphina, Indonesia, Malaysia, Thailand, Indo Cina dan Rusia.
Kedatangan Jepang ke Indonesia ada satu hal istimewa dalam dunia pendidikan yaitu sekolah-sekolah telah diseragamkan dan dinegrikan meskipun sekolah-sekolah swasta lain, diizinkan terus berkembang dengan pengaturan dan diselenggarakan oleh penduduk jepang. Pembedaan pelayanan pendidikan didasarkan pada bangsa dan status sosial dihapus.
B.                 Rumusan Masalah
Objek pembahasan dalam makalah ini dijabarkan melalui Rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Sejarah Singkat Masuknya Jepang ke Indonesia
2.      Perkembangan Pendidikan dan Pengajaran
3.      Sikap Jepang terhadap Pendidikan Islam
4.      Pertumbuhan dan Perkembangan Madrasah

C.                Tujuan Penyusunan Makalah
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Sosial Pendidikan Islam program Pascasarjana IAIT Kediri. Dan untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.                Sejarah Singkat Masuknya Jepang ke Indonesia
Bulan Oktober 1941, Jenderal Hideki Tojo menggantikan Konoe sebagai Perdana Menteri Jepang. Sebenarnya, sampai akhir tahun 1940, pimpinan militer Jepang tidak menghendaki melawan beberapa negara sekaligus, namun sejak pertengahan tahun 1941 mereka melihat, bahwa Amerika Serikat, Inggris dan Belanda harus dihadapi sekaligus, apabila mereka ingin menguasai sumber daya alam di Asia Tenggara. Apalagi setelah Amerika melancarkan embargo minyak bumi, yang sangat mereka butuhkan, baik untuk industri di Jepang, maupun untuk keperluan perang.
Admiral Isoroku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mengembangkan strategi perang yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua operasi besar. Seluruh potensi Angkatan Laut Jepang mencakup 6 kapal induk (pengangkut pesawat tempur), 10 kapal perang, 18 kapal penjelajah berat, 20 kapal penjelajah ringan, 4 kapal pengangkut perlengkapan, 112 kapal perusak, 65 kapal selam serta 2.274 pesawat tempur. Kekuatan pertama, yaitu 6 kapal induk, 2 kapal perang, 11 kapal perusak serta lebih dari 1.400 pesawat tempur, tanggal 7 Desember 1941, akan menyerang secara mendadak basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor di kepulauan Hawaii. Sedangkan kekuatan kedua, sisa kekuatan Angkatan Laut yang mereka miliki, mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan, yaitu penyerangan atas Filipina dan Malaya/Singapura, yang akan dilanjutkan ke Jawa. Kekuatan yang dikerahkan ke Asia Tenggara adalah 11 Divisi Infantri yang didukung oleh 7 resimen tank serta 795 pesawat tempur. Seluruh operasi direncanakan selesai dalam 150 hari. Admiral Chuichi Nagumo memimpin armada yang ditugaskan menyerang Pearl Harbor.
Hari minggu pagi tanggal 7 Desember 1941, 360 pesawat terbang yang terdiri dari pembom pembawa torpedo serta sejumlah pesawat tempur diberangkatkan dalam dua gelombang. Pengeboman Pearl Harbor ini berhasil menenggelamkan dua kapal perang besar serta merusak 6 kapal perang lain. Selain itu pemboman Jepang tesebut juga menghancurkan 180 pesawat tempur Amerika. Lebih dari 2.330 serdadu Amerika tewas dan lebih dari 1.140 lainnya luka-luka. Namun tiga kapal induk Amerika selamat, karena pada saat itu tidak berada di Pearl Harbor. Tanggal 8 Desember 1941, Kongres Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang.
Perang Pasifik ini berpengaruh besar terhadap gerakan kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk Indonesia. Tujuan Jepang menyerang dan menduduki Hindia-Belanda adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera sebagai sumber minyak utama.[1]
Kejayaan penjajah Belanda lenyap setelah Jepang berada di Indonesia. Mereka bertekuk lutut tanpa syarat kepada Jepang. Tujuan Jepang ke Indonesia ialah menjadikan Indonesia sebagai sumber bahan mentah dan tenaga manusia yang sangat besar artinya bagi kelangsungan perang Pasifik. Hal ini sesuai dengan cita-cita politik ekspansinya.
 Untuk mengetahui maksud dan tujuannya yang fasistis itu (bersifat memeras), maka ditanamkan ideologi baru, yakni ideologi Hakko Ichiu atau ideologi kemakmuran bersama di Asia Timur Raya.[2] Tanpa malu-malu Jepang menegaskan, bahwa mereka berjuang mati-matian, melakukan perang suci untuk kepentingan bangsa-bangsa di Asia Timur. Untuk ini dikerahkan barisan propaganda Jepang, disertai dengan pelaksanaan sistem kabaktian rakyat, untuk memeras bangsa kita. Meskipun demikian, keinginan dan semangat rakyat tetap bergelora untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah, seperti terbukti dari proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 yang kita tebus dengan perjuangan dan pengorbanan.

B.                  Perkembangan Pendidikan dan Pengajaran
a.                  Pendidikan pada zaman Jepang dilaksanakan atas dasar idiil Hakko-Ichi-U. hal ini mengandung arti bahwa pendidikan adalah alat untuk mencapai Lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur Raya, yang dalam arti dekat membantu memenangkan perang Asia Timur. Oleh karena itu secara praktisnya, pendidikan prajurit yang siap membantu memenangkan peperangan bagi Jepang.[3]
b.                  Usaha penanaman ideologi Hakko Ichu melalui sekolah-sekolah dimulai dengan mengadakan pelatihan guru-guru. Guru-guru dibebani tugas sebagai penyebar ideologi baru tersebut. Pelatihat tersebut dipusatkan di Jakarta. Setiap Kabupaten diwajibkan mengirimkan wakilnya untuk mendapatkan gemblengan langsung dari pimpinan jepang. Gembelan ini berlangsung selama 3 bulan, jangka waktu tersebut dirasa cukup menjepangkan para guru.[4]
c.                  Bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar resmi baik kantor maupun sekolah. Pemakaian bahasa Belanda dilarang sama sekali. Bahasa Jepang menjadi bahasa kedua, dan diajarkan di sekolah.[5]
d.                 Penyelenggaraan pendidikan zaman penjajahan Jepang banyak mengalami perubahan-perubahan. Pembedaan pelayanan pendidikan didasarkan pada bangsa dan status sosial dihapus. Dualistis-diskriminatif dalam sistem pendidikan dihilangkan, dengan demikian terjadi pengintegrasian terhadap macam-macam sekolah sejenis. Sejak zaman Jepang bahasa Indonsia dan istilah-istilah Indonesia dipergunakan di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan.[6]
e.                  Jenis persekolahan
Sekolah-sekolah yang ada pada zaman penjajahan Jepang, yaitu:
1)      Sekolah rendah atau Lagere Oriderwijs diganti menjadi Sekolah Rakyat (Kokumi Gakho), yang terbuka bagi semua golongan penduduk dengan lama pendidikan enam tahun.
2)      Sekolah Menengah Pertama (Shoto Chu Gakho)
Sekolah Menengah Tinggi (Koto Chu Gakho)
Sekolah Pertukangan (Kogyo Gakho)
Sekolah Teknik Menengah (Kogyo Semmon Gakho)
Sekolah Hukum dan mosvia dihapuskan, sebaliknya didirikan Sekolah Pelajaran dan Sekolah Pelayanan Tinggi; sekolah terdiri atas tiga macam, yaitu: (1) Sekolah Guru Dua Tahun (Syoto Sikan Gakho), (2) Sekolah Guru Empat Tahun (Guto Sihan Gakho), (3) Sekolah Guru Enam Tahun (Koto Sihan Gakho). Disamping itu masih terdapat Sekolah Pertanian (Nogyo Gakho) di Tasikmalaya dan Malang dengan lama pendidikan tiga tahun sesudah Sekolah Rakyat.
f.                   Sistem Persekolahan
Terdiri atas tiga tingkatan atau jenjang, yaitu:
1)      Pendidikan Dasar 6 tahun
2)      Pendidikan Menengah 6 tahun
3)      Pendidikan Tinggi.[7]
Isi pengajaran:
1.                  Pengajaran dipergunakan sebagai alat propaganda dan juga untuk kepentingan perang. Murid-murid seringkali diharuskan kerja bakti, misalnya: membersihkan bengkel, asrama, membuat bahan-bahan untuk kepentingan pertahanan, dan sebagainya.
2.                  Untuk melipatgandakan hasil bumi, murid-murid diharuskan membuat pupuk kompos atau beramai-ramai membasmi hama tikus di sawah. Sebagian waktu belajar digunakan untuk menanami halaman sekolah dan pinggir-pinggir jalan dengan tanaman jeruk.
3.                  Pelatihan-pelatihan jasmani berupa pelatihan kemiliteran dan mengisi aktivitas-aktivitas murid-murid sehari-hari. Agar berjalan lancar, pada tiap-tiap sekolah dibentuk barisan-barisan murid. Barisan murid-murid SD disebut Seinen-tai, sedangkan barisan murid-murid sekolah lanjutan disebut Gokutotai.
4.                  Untuk menanamkan semangat jepang, tiap hari murid-murid harus mengucapkan sumpah pelajar dalam bahasa Jepang. Mereka harus menguasai bahasa dan nyanyian Jepang. Tiap-tiap pagi diadakan upacara, dengan menyembah Jepang dan menghormati istana Tokyo.
5.                  Agar bahasa Jepang lebih popular, diadakan ujian bahasa Jpang untuk para guru dan pegawai-pegawai, yang dibagi atas 5 tingkat. Pemilik ijazah ini mendapat tanbahan upah.[8]

C.                 Sikap Jepang terhadap Pendidikan Islam
Sikap penjajah Jepang terhadap pendidikan Islam ternyata lebih lunak sehingga ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas daripada pada zaman pemerintah kolonial Belanda. Terlebih-lebih pada tahap permulaan, pemerintah Jepang menampakkan diri seakan-akan membela kepentingan Islam.[9] Kebijaksanaan yang diambil oleh Dai Nippon dalam mendekati umat Islam Indonesia antara lain adalah:
1.                  Mengangkat Dr. Hamka, reformis Minangkabau yang baru dibebaskan oleh penjajah Belanda dari pembuangan di Jawa Barat, untuk menjadi penasihat Sumubu. Dr. Hamka adalah orang bumiputra yang tanpa takut-takut membeberkan bahwa tidak mungkin menyatukan ajaran Shinto yang mengharuskan menyembah Kaisar dan matahari terbit dengan Islam yang monotheisme. Pemerintah Nippon tidak berani menangkap Dr. Hamka, karena beliau adalah ulama yang memiliki pengaruh cukup besar pada masyarakat Islam pada waktu itu.[10]
2.                  Kantor Urusan Agama pada zaman Belanda disebut: Kantoor Voor Islamistische Saken yang dipimpin oleh orang-orang Orientalisten Belanda, diubah Jepang menjadi Kantor Sumubi yang dipimpin oleh Ulama Islam sendiri yaitu K.H. Hasyim Asy’ari dari Jombang dan di daerah-daerah dibentuk Sumuka.[11]
3.                  Pondok pesantren yang besar-besar sering mendapatkan kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar Jepang.
4.                  Sekolah negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama.
5.                  Di samping itu pmerintahan Jepang mengizinkan pembentukan barisan Hizbullah untuk memberikan latihan dasar kemiliteran bagi pemuda Islam. Barisan ini dipimpin oleh K.H. Zainal Arifin.
6.                  Pemerintah Jepang mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh K.H. Wahid Hasyim, Kahar Mudzakir dan Bung Hatta.
7.                  Para ulama Islam bekerja sama dengan pmimpin-pemimpin nasionalis diizinkan membentuk barisan Pembela Tanah Air (Peta). Tokoh-tokoh santri dan pemuda Islam ikut dalam latihan kader militer itu, antara lain: Sudirman, Abd.Khaliq Hasyim, Iskandar Sulaiman, Yusuf Anis, Aruji Kartawinata, Kasman Singodimejo, Mulyadi Joyomartono, Wahib Wahab, Sarbini Saiful Islam dan lain-lain. Tentara Pembela Tanah Air inilah yang menjadi inti dari TNI sekarang.
8.                  Umat Islam diizinkan meneruskan organisasi persatuan yang disebut; Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang bersifat kemasyarakatan.[12]
Maksud dari pemerintah Jepang adalah supaya kekuatan umat Islam dan nasionalis dapat dibina untuk kepentingan perang Asia Timur Raya yang dipimpin oleh Jepang.
Perang Dunia ke II menghebat dan tekanan pihak sekutu kepada Jepang makin berat. Beberapa tahun menjelang berakhirnya perang itu tampak semakin jelas betapa beratnya Jepang menghadapi musuh dari luar dan oposisi dari rakyat Indonesia sendiri. Dari segi militer dan sosial politik di Indonesia Jepang menampakkan diri sebagai penjajah yang sewenang-wenang dan lebih kasar daripada penjajah Belanda. Kekayaan bumi Indonesia dikumpulkan secara paksa untuk membiayai perang Asia Timur Raya, sehingga rakyat menderita kelaparan dan hamper telanjang karena kekurangan pakaian. Di samping itu rakyat dikerahkan kerja keras (romusha) untuk kepentingan perang.
Jepang membentuk badan-badan pertahanan rakyat seperti Haihoo, Peta, Keibodan, Seinan dan lain sebagainya, sehingga penderitaan rakyat lahir dan batin makin tak tertahankan lagi. Maka timbullah pemberontakan-pemberontakan baik dari golongan Peta di Blitar Jawa Timur dan lain-lain maupun oposisi dari para alim ulama. Banyak kyai yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Jepang.
Dunia pendidikan secara umum terbengkalai, karena murid-murid sekolah setiap hari hanya disuruh gerak badan, baris berbaris, bekerja bakti (romusha), bernyanyi dan lain sebagainya. Yang masih agak beruntung adalah madrasah-madrasah yang berada dalam lingkungan pondok pesantren yang bebasa dari pengawasan langsung pemerintah Jepang. Pendidikan dalam pondok psantren masih dapat berjalan dengan agak wajar.[13]
Pada tanggal 7 Agustus, penguasa tertinggi wilayah Selatan Jepang mengambil inisiatif dari tangan penguasa Jakarta dengan membuat Dekrit didirikannya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang baru. Ketika panitia tersebut bersidang, Jepang telah menandatangani perjanjian menyerah kalah dengan pihak sekutu. Sepuluh hari setelah izin diberikan kepada Panitia Persiapan, lahirlah Republik Indonesia, setelah berabad-abad melawan pemerintah Kafir, akhirnya bangsa Indonesia terlepas dari belenggu yang sangat menyakitkan itu.[14]


D.                Pertumbuhan dan Perkembangan Madrasah
Pada masa pendudukan Jepang, ada satu hal istimewa dalam dunia pendidikan sebagaimana telah dikemukakan, yaitu sekolah-sekolah telah diseragamkan dan dinegrikan meskipun sekolah-sekolah swasta lain, seperti Muhammadiyah, Taman Siswa dan lain-lain diizinkan terus berkembang dengan pengaturan dan diselenggarakan oleh penduduk jepang.[15]
Sementara itu, khususnya pada masa awal-awalnya, madrasah dibangun dengan gencar-gencarnya selagi ada angin segar yang diberikan oleh jepang. Walaupun lebih bersifat politis belaka, kesempatan itu tidak disia-siakan begitu saja dan umat Islam Indonesia memanfaatkan dengan sebaik-baikinya. Ini tampak di sumatera dengan berdirinya madrasah Awaliyahnya, yang diilhami oleh Majelis Islam Tinggi.
Hampir seluruh pelosok pedesaan terdapat madrasah Awaliyah yang dikunjungi banyak anak laki-laki dan perempuan. Madrasah Awaliyah ini ditiadakan pada sore hari dengan waktu kurang satu setengah jam. Materi yang diajarkan ialah belajar membaca Al-Qur’an, ibadah, akhlak dan keimanan sebagai pelatihan pelajaran agama yang dilakukan di sekolah rakyat pagi hari.
Oleh karena itu, meskipun dunia pendidikan secara umum terbengkalai, karena murid-muridnya setiap hari hanya disuruh gerak badan, baris berbaris, bekerja bakti (romusha), bernyanyi dan sebagainya, madrasah-madrasah yang berada di dalam lingkunagn pondok pesantren bebas dari pengawasan langsung pemerintah penduduk Jepang.[16]

BAB III
KESIMPULAN
Tujuan Jepang ke Indonesia ialah menjadikan Indonesia sebagai sumber bahan mentah dan tenaga manusia yang sangat besar artinya bagi kelangsungan perang Pasifik.
Meskipun demikian, keinginan dan semangat rakyat tetap bergelora untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah, seperti terbukti dari proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 yang kita tebus dengan perjuangan dan pengorbanan.
Pada masa pendudukan Jepang, ada hal istimewa dalam dunia pendidikan, yaitu Bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar resmi baik kantor maupun sekolah. Pembedaan pelayanan pendidikan didasarkan pada bangsa dan status sosial dihapus. Dualistis-diskriminatif dalam sistem pendidikan dihilangkan. sekolah-sekolah telah diseragamkan dan dinegrikan meskipun sekolah-sekolah swasta lain, seperti Muhammadiyah, Taman Siswa dan lain-lain diizinkan terus berkembang dengan pengaturan dan diselenggarakan oleh penduduk jepang. Hampir seluruh pelosok pedesaan terdapat madrasah Awaliyah yang dikunjungi banyak anak laki-laki dan perempuan.

DAFTAR PUSTAKA

Mustafa, Drs. H. A.  dan Abdullah Aly, Drs., Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (SPII), (Bandung: Pustaka Setia, 1999).
Raharjo, Redja Mujia, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001).
Rukiati , Dra, Enung K & Dra, Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, 2006).
Zuhairini, Drs, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara 2008).
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Nusantara_%281942-1945%29. Di akses hari Jum’at 09 September 2011.



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Nusantara_%281942-1945%29. Di akses hari Jum’at 09 September 2011.
[2] A. Mustafa dan Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (SPII), (Bandung: Pustaka Setia, 1999), hlm 97.
[3] Redja Mujia Raharjo, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hlm 268.
[4] A. Mustafa dan Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Hlm 97.
[5] Redja Mujia Raharjo, Pengantar Pendidikan, hlm 269.
[6] Redja Mujia Raharjo, Pengantar Pendidikan, hlm 269.
[7] Redja Mujia Raharjo, Pengantar Pendidikan, hlm 270.
[8] A. Mustafa dan Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Hlm 99.
[9] Enung K Rukiati & Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, 2006) hlm 62.
[10] A. Mustafa dan Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Hlm 99.
[11] Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara 2008) hlm 151.
[12] Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, hlm 151.
[13] Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, hlm 152.
[14] A. Mustafa dan Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Hlm 103.
[15] Enung K Rukiati & Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia,  hlm 65.
[16] A. Mustafa dan Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Hlm 110.